Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Harga Beras Melejit, Rakyat Biasa Menjerit

 

SOLOKAL - Aktivitas tukang panggul di  Pasar Legi, Surakarta, Rabu (25/10/2023)

SOLOKAL, Solo – Harga beras di Kota Surakarta mengalami kenaikan yang signifikan dalam 10 tahun terakhir. Dengan pemikiran bahwa “belum makan, kalau belum makan nasi” menyebabkan harga beras yang terus meroket ini tentunya berdampak langsung kepada masyarakat. Jeritan masyarakat yang hanya ingin adanya penurunan harga beras mulai terdengar selama beberapa bulan terakhir. Harga beras telah menembus Rp14.000 – Rp15.000 yang semula hanya sebesar Rp10.000 – Rp12.000. Hal ini merupakan sejarah kelam dalam perdagangan beras di Kota Surakarta dalam beberapa tahun terakhir. 

Dinas Perdagangan Kota Surakarta yang diwakilkan oleh Kepala Bidang Pelayanan Training Hartanto HW, S.E., M.Si menuturkan adanya kenaikan harga beras salah satunya disebabkan oleh fenomena El Nino yang mengakibatkan kemarau panjang. Pihaknya pun berpendapat bahwa fluktuasi harga beras selama September-Oktober mencapai Rp100 per hari dan mulai stabil dengan harga relatif tinggi di awal Oktober. Langkah Dinas Perdagangan dalam menangani kenaikan harga beras dengan membantu Badan Urusan Logistik (Bulog) dalam mendistribusikan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke beberapa penjual yang telah terdaftar seperti di Pasar Nusukan, Pasar Gede, dan Pasar Legi. Tak hanya itu, Dinas terkait pun menentukan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras SPHP di wilayah Surakarta senilai Rp10.900 per kilonya.

SOLOKAL – Tumpukan stok beras di salah satu gudang distributor di Pasar Legi, Surakarta, Rabu (25/10/2023) 


Penjual beras di Pasar Legi menjelaskan bahwa kenaikan harga beras telah terjadi sejak bulan September dan naik sekitar Rp1.500/kg. Ia menerangkan semula harga beras Rp10.500 dan mengalami kenaikan hingga Rp11.700. Kenaikan harga beras berdampak pada penurunan penjualan beras di Pasar Legi. Hal tersebut disebabkan oleh pembeli yang cenderung untuk mencari beras dengan harga rendah. 


Tyas, seorang mahasiswa perantau menyebutkan bahwa ia biasa bertugas membawa beras dengan jumlah yang lebih banyak daripada teman sekontrakannya karena rumahnya lah yang paling dekat. Namun, ia merasa cukup terbebani setelah harga beras naik, terlebih karena orang tuanya merupakan buruh. Beruntung temannya memaklumi dan sepakat untuk menyamaratakan jumlah beras yang dibawa. Senada dengan Tyas, Naomi, mengaku jika kenaikan harga beras ini membuat ia harus mengurangi porsinya dalam memasak nasi.  “Aku jadi hemat-hematin gitu. Dulu waktu harganya masih 10.000 an, sekali masak 1½ cup, pas udah naik, jadi 1 cup doang” ungkapnya. 


Sektor rumah tangga pun turut merasa sengsara akibat naiknya harga beras. Arum sebagai ibu rumah tangga mengaku jika fenomena ini membuatnya harus bergelut pada nominal anggaran belanja kebutuhan rumah tangga. Anggaran pengeluaran yang telah diatur sedemikian rupa berdasar pendapatan, pada akhirnya harus ditambah demi memenuhi kebutuhan pangan keluarga seperti biasa. “Karena mau nggak mau harus menambah budget untuk belanja beras, soalnya untuk belanja bahan lain sudah diperhitungkan sesuai dengan kebutuhan, jadi tidak bisa dikurangi”, ujar Arum. 


Dampak dari naiknya harga beras tidak hanya dirasakan oleh konsumen rumah tangga tetapi juga sangat berdampak bagi para penjual makanan. Purwati, pemilik salah satu warung makan mengaku bahwa kenaikan beras sangat berdampak pada pendapatannya. Naiknya harga beras membuat keuntungan yang diperolehnya menurun. “Kalau ditanya terdampak, pastinya terdampak ya mbak, karena bisa dibilang ini merupakan kenaikan beras yang paling tinggi selama ini, jadi kita sebagai pedagang juga bingung buat ngakalin kenaikan harga beras ini. Kita akhirnya cuman bisa ambil untung lewat minuman dan lauk sih mba”, ujarnya. 


Pemilik warung makan, terlebih dengan sistem prasmanan, dipaksa memutar otak karena mereka tidak bisa membatasi seberapa banyak pembeli mengambil porsi nasi. Ketika ditanya soal beras SPHP yang disalurkan oleh Bulog, ia mengaku tidak mengetahui informasi tersebut, “Saya nggak tahu dengan adanya beras SPHP tersebut, justru baru tahu dari mbaknya”, jawabnya. Ini membuktikan bahwa memang tidak banyak masyarakat yang tahu akan adanya informasi beras SPHP dari pemerintah. 


Pemkot Surakarta melalui Program Gerakan Pasar Murah (GPM) bersama Dinas Perdagangan Kota Surakarta berupaya  untuk menggelontorkan beras ke setiap kelurahan. GPM ini merupakan kebijakan yang perlu diapresiasi guna mengurangi harga beras yang melonjak naik. Pemerintah berharap adanya program ini dapat sedikit meringankan beban masyarakat. Masyarakat pun turut berharap kepada pemerintah agar tidak ada jeritan seperti ini lagi di musim kemarau yang akan datang.


Posting Komentar

0 Komentar