Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Proses Kreatif Di Balik Teknologi Kecerdasan Buatan Tiktok

 

Tiktok ialah platform media sosial berbasis video yang sedang merajalela dalam masyarakat modern saat ini. Meledaknya Tiktok berhasil mengalahkan berbagai platform media sosial legendaris yang lebih dulu dikenal masyarakat. Keberhasilan media sosial Tiktok membuatnya menjadi pesaing teratas dalam peta persaingan bisnis media sosial di dunia. Negara kita, Indonesia pun ikut merasakan booming aplikasi ini. Pesatnya perkembangan aplikasi Tiktok di Indonesia didukung dengan pesatnya kenaikan jumlah pengguna sosial media di negara ini. Dilansir dari kumparan.com, tercatat sebanyak 30,7 juta pengguna Tiktok adalah orang Indonesia, hal tersebut menjadikan negara kita menjadi negara pengguna Tiktok terbesar keempat di dunia.

Dari awal mereka berdiri, Tiktok berada di bawah perusahaan teknologi terkemuka di China dengan nama ByteDance Company dengan pendirinya yang bernama Zhang Yimin dan Liang Rubo. Mereka berdua adalah sosok software engineer jenius yang juga menciptakan aplikasi sosial media Tiktok yang sangat canggih nan cerdas. Aplikasi Tiktok adalah sebuah hasil dari kejeniusan yang dikombinasikan dengan kreativitas untuk menciptakan sesuatu yang mensubtitusi berbagai platform sosial media sebab berhasil membuai penggunanya untuk terus bergantung dan menggunakan aplikasinya. Namun,  aplikasi Tiktok bukanlah aplikasi yang serta merta muncul begitu saja. Aplikasi ini adalah hasil dari riset-riset dan pengembangan aplikasi-aplikasi yang telah diluncurkan sebelumnya. Aplikasi pertama yang diluncurkan oleh ByteDance adalah Neihan Duanzi, yang merupakan sebuah aplikasi sosial media yang memungkinkan penggunanya berbagi lelucon, meme, dan vidio lucu. Dilihat dari kontennya, aplikasi ini adalah yang menjadi cikal bakal munculnya aplikasi Tiktok. Empat bulan berselang, ByteDance meluncurukan aplikasi berita dan informasi yang bernama Toutiao. Aplikasi tersebut juga yang akan menjadi cikal bakal kecanggihan algoritma Tiktok saat ini.

Aplikasi Tuotiau pada kala itu menjadi aplikasi yang sangat populer di China. Dalam waktu yang sangat singkat saja, sekitar empat bulan setelah peluncurannya aplikasi Toutiao berhasil mengantongi satu juta pengguna aktif harian. Aplikasi ini dibangun dengan teknologi kecerdasan buatan dengan cara mengumpulkan berbagai berita dan informasi dari pihak ketiga lalu mendistribusikannya kepada pengguna yang telah dipersonalisasikan sesuai data dari mesin AI. Sistem AI memungkinkan aplikasi Toutiao dapat melacak berbagai berita dan konten informasi yang diminati oleh para penggunanya. Sistem yang canggih itulah yang membuat penggunanya betah berlama-lama berselancar di aplikasi tersebut. Kecerdasan Zhang Yimin dalam mengaplikasikan kecerdasan buatan inilah yang menghantarkan Aplikasi Toutiao menjadi besar dan kemudian mengangkat perusahaan teknologi ByteDance yang baru seumur jagung menjadi perusaan bernilai tinggi di China kala itu.

Perkembangan aplikasi Toutiao yang sangat pesat waktu itu membuat Sequoia Capital menginvestasikan uang sebesar 100 juta US Dollar kepada ByteDance. Investasi jumbo ersebut digunakan oleh Zhang Yimin dengan sangat baik, sebagian uang tersebut diguanakan untuk mengembangkan aplikasi Toutiao yang selama ini telah ada dan sebagian lainnya digunakan untuk membangun sebuah laboratorium penelitian kecerdasan buatan yang dinamakan ByteDance AI Labs.

ByteDance AI Labs meneliti dan mengembangkan teknologi artificial intelegence
untuk diterapkan kedalam platform internet ataupun media sosial yang akan
mempersonalisasikan setiap konten sesuai kecocokan penggunanya. Teknologi AI buatan
ByteDance ini kemudian diterapkan kedalam aplikasi Toutiao yang sebelumnya memang
sudah memiliki teknologi semacam ini tetapi diperbarui lagi dengan teknologi AI Labs.
Toutiao sebagai aplikasi percobaan pun menjadi sukses besar. Teknologi AI yang digunakan
berhasil menggaet penggunanya untuk berlama-lama didalam aplikasi tersebut. Teknologi AI
dalam Toutiao bekerja dengan menyedot setiap data informasi dan menganalisa ketertarikan
penggunanya dalam suatu konten melalui lama waktu pengguna membaca suatu berita
(engagement rate). Semakin lama pengguna mengakses suatu topik berita maka teknologi AI
akan mengganggap pengguna tertarik dengan topik tersebut dan sebaliknya. Kemudian AI
akan menampilkan rekomendasi-rekomendasi konten yang dirasa sesuai dengan preferensi
penggunanya. Melalui AI, Toutiao mencari dan menyusun berita dan artikel harian bagi
penggunanya dan telah bermitra dengan 4000 situs berita sehingga Toutiao menjadi platform
berita yang paling up-to-date di antara aplikasi-aplikasi penyedia berita lainnya. Melalui
timeline-timeline berita yang menarik dan konten terkini, Toutiao berhasil menarik banyak
generasi muda yang selama ini kurang tertarik berita-berita terkini dan lebih memilih berita-
berita entertainment.

Dengan teknologi ini, Toutiao berhasil menggaet pengguna baru dengan jumlah yang
besar. Di tahun 2017, aplikasi tersebut berhasil memperoleh pengguna aktif sebanyak 120
juta pengguna yang rata-rata tiap harinya menghabiskan waktu 74 menit untuk mengakses
aplikasi tersebut. Dengan pengguna dan jaringan yang besar tersebut, Toutiao sekaligus
menjadi platform bersosial media bagi penggunanya. Menurut medium.com, lebih dari 85%
pengguna Toutiao adalah remaja millenial yang memiliki paparan teknologi yang tinggi
dengan daya beli yang relatif tinggi di China sehingga platform ini juga mendapatkan banyak
penghasilan dari iklan-iklan yang dimunculkan didalamnya.
Keberhasilan Zhang Yimin dalam menerapkan teknologi AI pada aplikasi Toutiau
mendorongnya untuk membuat aplikasi serupa dengan media yang berbeda. Zhang Yimin
meyakini teknologi kecerdasan buatan yang dimilikinya dapat di aplikasikan keberbagai
platfom media online. Aplikasi yang dibuat oleh Zhang Yimin adalah Douyin. Aplikasi ini
merupakan sebuah aplikasi berbagi video pendek yang menampung bermacam video yang
diunggah penggunanya dari berbagai genre, seperti tarian, lelucon, aksi, trik, serta video
hiburan-hiburan lainnya. Douyin juga sama-sama memanfaatkan teknologi AI yang telah
diterapkan pada Toutiau sebelumnya. Namun, perbedaannya Douyin memanfaatkan AI untuk
menemukan ragam video yang disesuaikan dengan preferensi minat penggunannya.
Tak jauh berbeda dengan Toutiao, Douyin juga memperoleh kesuksesan besar di
pasar dalam negeri China. Dalam satu tahun peluncurannya saja, Douyin sudah diunduh
sebanyak 100 juta kali di playstore China. Video-video yang ditampilkan dalam platform
tersebut pun telah diputar sebanyak satu miliar kali setiap harinya. Cara kerja teknologi

kecerdasan buatan dalam Douyin pun sebenarnya tak jauh berbeda dengan Toutiao, yakni
dengan memprediksi ketertarikan pengguna melalui banyaknya aktivitas menonton,
menyukai, mengomentari video-video yang telah disajikan di laman aplikasi.
Dengan hasil yang menjanjikan ini, Zhang Yimin berambisi untuk berekspansi
mengembangkan Douyin sampai ke luar negeri. Sampai akhirnya di bulan November 2017,
ByteDance memutuskan untuk mengakuisisi perusahaan aplikasi video pendek Musical.ly
yang pada saat itu nilai akuisisinya sebanyak satu miliar US Dollar. Nilai tersebut sebagai
bagian dari rencana ekspansi ByteDance ke pasar global dengan berusaha menggaet
pengguna baru dan menawarkan lebih banyak konten. Keputusan untuk mengakuisisi
Musical.ly ialah karena aplikasi ini memiliki banyak kesamaan dengan aplikasi Douyin,
yakni aplikasi berbagi video pendek. Ketika diakuisisi, Musical.ly juga telah memiliki
sebanyak 200 juta pengguna yang tersebar di seluruh dunia. Hal ini tentu lebih memudahkan
ByteDance untuk menumbuhkan ekspansinya ke pasar global. Pada tahun tersebut akhirnya
ByteDance pun meluncurkan aplikasi hasil perkawinan dari aplikasi Musical.ly dan teknologi
artificial intelegent bawaan Douyin, yang diberi nama Tiktok.
Tiktok pada saat itu hadir sebagai platform media sosial dengan format yang baru
yang berbeda dengan berbagai media sosial yang telah hadir sebelumnya. Dengan format
yang unik tersebut membuat Tiktok melejit dengan sangat cepat. Lompatan tersebut sontak
menggegerkan industri bisnis media sosial dunia sebab Tiktok mampu menggeser berbagai
media sosial besar yang sudah ada sebelumnya. Pada awal kuartal 2018 saja, aplikasi ini
sudah meraih lebih dari 500 juta pengguna aktif bulanan. Capaian itu sungguh menakjubkan
untuk ukuran aplikasi pendatang baru dengan format berbeda. Bahkan di waktu yang sama,
tingkat unduhan tiktok berhasil memuncaki posisi pertama pada aplikasi permainan yang
diunduh di seluruh dunia dengan angka unduhan 105 pada kuartal I 2018 mengalahkan
aplikasi besar seperti PUBG yang diunduh sekitar 90 juta pengguna. Sedangkan di Amerika
sendiri aplikasi ini sudah mengalahkan aplikasi-aplikasi media sosial besar seperti Whatsapp,
WeChat, dan Facebook (digination.com).

Kesuksesan Tiktok ini tak lain adalah karena penerapan teknologi kecerdasan buatan
atau AI yang tepat guna. Teknologi AI yang dimiliki Tiktok dinilai yang paling cerdas dan
paling efisien diantara teknologi yang ada pada aplikasi-aplikasi serupa lainnya. Kecanggihan
artificial intelegence yang dimiliki aplikasi tersebut dirasa membuat penggunannya merasa
betah berlama-lama dalam aplikasi tersebut. Aplikasi tersebut diperkirakan memiliki format
video pendek yang adiktif dengan memanfaatkan efek dopamin yang dimiliki manusia
sehingga menciptakan candu bagi orang-orang yang menggunakannya.
Berbeda dengan aplikasi pesaingnya, Tiktok mendorong penggunannya untuk
memproduksi konten tidak peduli siapa konten kreatornya. Hal ini karena algoritma di Tiktok
membuat seluruh video berkemungkinan ditonton oleh berbagai pihak tergantung dengan
relevansi konten penggunanya. Algoritma semacam itu membuat Tiktok banyak dilirik oleh
para konten kreator kecil ataupun baru yang selama ini kesusahan untuk mencari viewers di
aplikasi lain. Dan algoritma seperti itu akan mendorong semakin banyak konten yang
ditampilkan dan semakin beragam pula konten yang ada pada aplikasi tersebut. Jadi, aplikasi
Tiktok membuat seluruh penggunanya setara atas konten-kontennya, semua orang dalam
aplikasi tersebut berkemungkinan viral dan menjadi terkenal. Strategi Tiktok tersebut dirasa

dapat melindungi dan memberi harapan pada kreator baru dan menjaganya untuk tetap stay di
aplikasi tersebut. Membuat konten di Tiktok akan terasa seperti candu perjudian, siapapun tak
ada yang tahu berapa jumlah penonton mereka, bahkan konten-konten iseng pun bisa menjadi
viral kapan saja.
Meskipun konten yang ditampilkan di Tiktok akan menyesuaikan preferensi
pengguna, Tiktok juga akan ikut memfilter konten-konten yang akan ditampilkan di beranda
penggunanya. Tiktok tidak ingin membiarkan begitu saja suatu topik konten mendominasi di
satu pengguna saja. Hal itu dilakukan Tiktok untuk mencegah konten-konten yang dianggap
tidak berkualitas muncul di beranda penggunanya dan membuat citra Tiktok menjadi kurang
baik. Tiktok ingin setiap penggunanya memiliki pengalaman terbaik dan paling menghibur
dengan harapan Tiktok selalu menjadi tempat yang indah, baik, sehingga dapat terus
mengesankan para penggunanya.
Algoritma dari hasil pengembangan kecerdasan buatan ByteDance juga membuat
tampilan-tampilan konten yang disediakan Tiktok menjadi lebih menarik para penggunanya.
Tiktok dirancang sebagai aplikasi penyedia konten serba ada dengan format platform
discovery. Hal ini tentu saja berbeda dengan aplikasi-aplikasi lain yang dibuat sebagai
platform media sosial yang hanya sebatas membawa dunia sosial ke internet. Perbedaan
inilah yang membuat banyak orang untuk mulai membuat konten dengan harapan konten
mereka ditemukan banyak orang dan akhirnya dapat meraih ketenaral/keviralan di platform
tersebut. Ketika membuka Tiktok, pengguna akan akan langsung dibawa ke halaman For
Your Page yang akan mempertontonkan bermacam konten tidak terbatas hanya dari teman
medsos seperti aplikasi lain tetapi juga konten-koten yang menurut algoritma Tiktok paling
sesuai dengan masing-masing penggunanya.
Sistem For Your Page yang ada pada Tiktok akan sangat membantu banyak kreator
konten mendapatkan atensi yang selama ini dirasa sulit jika menggunakan aplikasi serupa
lainnya. Dalam sistem algoritma Tiktok, semakin banyak konten yang disebar, semakin
banyak pula kemungkinan video ditonton lebih banyak orang. Viralitas mini tersebut akan
sangat membuat para kreator konten menjadi ketagihan untuk semakin banyak menghasilkan
konten video mereka.
Selain itu, format konten di Tiktok yang berisikan video pendek membuatnya lebih
unggul dari pada kompetitornya. Sebab video pendek dan cepat yang ditampilkan akan
memudahkan Tiktok untuk menyisipkan ratusan konten baru dalam hitungan jam saja.
Dibandingkan dengan Youtube yang videonya berdurasi rata-rata 10-15 menit sehingga
jumlah video yang ditampilkan jauh lebih rendah. Keuntungan tersebut juga akan membantu
mempermudah AI untuk melacak preferensi penggunanya karena sampel video yang ditonton
lebih banyak sehingga personalisasi konten yang dilakukan AI Tiktok akan jauh lebih tepat
dibanding aplikasi lain.
Format video pendek yang disediakan di Tiktok tersebut juga memiliki efek yang
membuat penggunanya menjadi kecanduan. Dilansir dari verywellhealth.com, otak kita akan
mendapatkan efek intermitten reinforcement dan dopamine efek ketika sedang menggunakan
Tiktok. Intermitten reinforcement adalah pola pemberian reward pada interval tertentu.
Metode yang dilakukan Tiktok akan membuat penggunanya merasa tambah penasaran ketika
menggeser video Tiktok dan mendorong penggunanya untuk terus scrolling sampai

menemukan reward tersebut. Saat menggeser video Tiktok seseorang akan terus
melakukannya sampai mendapat video yang mereka sukai dan menontonnya sehingga hal
tersebut akan menghasilkan kesenangan baginya. Kemudian hal tersebut akan diulang lagi
dan lagi secara acak hingga menenumkan kembali video yang disukainya. Video-video
menyenangkan yang muncul secara tidak terprediksi tersebut akan membuat pengguna
tersebut menjadi semakin penasaran sehingga terus mendorong penggunanya untuk scrolling
video demi video sampai pengguna menemukan kembali video yang membuatnya senang
tersebut. Ketika menggunakan Tiktok, zat kimia di otak yang mengirim pesan antar sel saraf
memberi sinyal pada otak bahwa pengguna tersebut sedang merasakan kenikmatan dalam
proses pencarian dan penemuan video acak di Tiktok. Efek kesenangan sesaat itulah yang
disebut dengan efek Dopamine.
Dapat dilihat bahwa Zhang Yimin sebagai pemrakarsa Tiktok sangat cerdas dalam
memanfaatkan teknologi secara maksimal sehingga menghantarkannya pada gerbang
kesuksesan. Langkah Yimin untuk membuka laboratorium pengembangan AI sendiri dinilai
sebagai keputusan terbaik yang turut mengubah hidupnya. Tiktok saat ini berkembang
menjadi media sosial serba ada yang memanfaatkan narsisitas dan membawa candu bagi
penggunanya sehingga diprediksi akan terus merajai media sosial dunia sampai waktu yang
tidak ditentukan. Teknologi kecerdasan buatan atau AI yang dikembangkan serta
dimanfaatkan secara maksimal dan tepat sebagaimana yang sudah diterangkan sebelumnya
membuat aplikasi Tiktok menjadi aplikasi media sosial nomor satu yang akan sulit
dikalahkan.


DAFTAR REFERENSI
Digination.id. 26 November 2018. Wow, Tiktok Aplikasi Terpopuler di Dunia!. Diakses pada

03 September 2022. https://www.digination.id/read/012699/wow-tiktok-aplikasi-
terpopuler-di-dunia.

Forbes.com. 27 Mei 2020. ByteDance, Chinese Digital Giant and Owner of Tiktok, Reported
To Have Revenue of $17 Billion. Diakses pada 03 September 2022.

https://www.forbes.com/sites/mikevorhaus/2020/05/27/bytedance-chinese-digital-
giant-and-owner-of-tiktok-reported-to-have-revenues-of-17-

billion/?sh=67f591a023de.
Istoria.substack.com. 11 September 2020. Tiktok‟s Recommendation Algorithm. Diakses

pada 03 September 2022. https://istoria.substack.com/p/tiktoks-recommendation-
algorithm.

Kumparan.com. 15 September 2021. Apa Itu Douyin, Aplikasi yang Hanya Bisa Diakses oleh

Warga China?. Diakses pada 03 November 2022. https://kumparan.com/berita-hari-
ini/apa-itu-douyin-aplikasi-yang-hanya-bisa-diakses-oleh-warga-china-
1wWntGF5ftJ.

Medium.com. 01 Desember 2018. A Look at Toutiao: China‟s Artificial Intelligence Powered
News Platform. Diakses pada 03 September 2022.

https://medium.com/@chewweichun/a-look-at-toutiao-chinas-artificial-intelligence-
powered-news-platform-4eef3c23b79a.

Theverge.com. 30 November 2018. How China‟s ByteDance Became The World Most
Valuable Startup. Diakses pada 03 September 2022.

https://www.theverge.com/2018/11/30/18107732/bytedance-valuation-tiktok-china-
startup.

Verywllhealth.com. 13 April 2022. Is „Tiktok Brain‟ Affecting Kids?. Diakses pada 03
September 2022. https://www.verywellhealth.com/tiktok-brain-5225664.
Xu, L., Yan, X., & Zhang, Z. (2019). Research on the causes of the “TikTok” app becoming
popular and the existing problems. Journal of advanced management science, 7(2).

Posting Komentar

0 Komentar